Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

24 May 2014

Ennichisai 2014

Ahaaaa...
Kali ini gue datang di event tahunan Japanese Traditional Festival aka Ennichisai, sebenernya gue ga mudeng-mudeng banget ama Japanese Culture, gue datang ke event ini karena yang terpikir di benak gue klo ada acara beginian pasti ada banyak booth nya Japanese Foodstreet, dan ternyata benar sekali. Meskipun kali ini merupakan kali pertama gue datang ke event ini, tapi lumayan ga nyesel karena sebagai Japanese food lovers, event seperti ini jangan sampe absent, bebas biaya masuk dan sangat meriah sekaleh, rame jahe dah pokoknya, btw di event ini ternyata japanese foodstreet nya tidak semeriah yang gue bayangin, sempet icip icip sushi, okonomiyaki, takoyaki dkk.



 

15 Mar 2014

Baduy

Wilujeng sumping sadayana
Perjalanan dari Jakarta jam 05.00 pagi sama rombongan NDI (Nol Derajat Indonesia) dan setelah menempuh perjalanan panjang dan jalan berbatu menuju Serang Banten, akhirnya tibalah  di Kampung Ciboleger nah disini lah terminal terakhir kendaraan dan selanjutnya untuk menuju perkampungan suku Baduy harus di tempuh dengan jalan kaki, nyampek sekitar jam 11.00 WIB gue dan rombongan istirahat makan siang di perkampungan baduy luar yang pertama yaitu kampung kaduketu, numpang sholat dan makan siang, setelah itu lanjut perjalanan treking ke kampung baduy luar yaitu kampung Balibing...super dahsyat sekali rute trekking ku kali ini, naik turun bukit terjal, dan dasarnya gue jarang jalan jauh dan medan nya yang terjal, sempat bikin ngos ngosan dan nyerah, tapi karena udah terlanjur nyampek sini sayang klo nyerah gitu aja..akhirnya dikuat kuatin jalan meskipun jalan nya kayak marmut. Oh ya suku Baduy adalah salah satu suku yang ada di Indonesia, perkampungan Baduy terletak di kabupaten Serang, Propinsi Banten. Suku Baduy ini masih mempertahankan sistem harminosasi alam, yang jauh dari moderenisasi. Di perkampungan suku baduy, tidak ada listrik, apalagi tivi dan perangkat elektronik lain nya, jam dinding pun mereka tidak punya. jadi bagi kalian yang ingin refresh dari hiruk pikuk ibukota boleh lah sekali-kali nginap di perkampungan ini. Penduduk baduy cukup ramah, hanya saja untuk yang perempuan agak pemalu, mereka cantik-cantik dan ganteng, dan masih natural "read :tanpa polesan". Mereka hidup dari bertani dan membuat tenun ikat, rute trekking banyak melewati lumbung-lumbung padi, dan banyak melewati sungai yang bening..rasanya pengin berendem seharian :p. Setelah melewati beberapa perkampungan baduy luar, tibalah di kampung ketiga yaitu kampung Marengo...nah di kampung ini gue udah ga kuat lagi buat ngelanjutin perjalanan, dan akhirnya numpang istirahat dan bobok siang di salam satu rumah penduduk baduy. 

 Si teteh yang selalu tersenyum
 Lumbung padi

 Jalur trekking yang bikin betis pegel

 Hasil panen

 Career women "paling suka liat foto ini"


Dan kalian yang pingin ke Baduy, banyak group backpacker atau TO (tour organizer) yang buat trip kesana, oh ya kali ini trip gue gratis..karena dapat sponsor dari teman, tapi sayang pas hari H temen gue ga bisa ikut karena ibu nya dirawat di RS, terima kasih ya kawan semoga ibunya juga lekas sembuh. So, sebelum kalian kesana pastikan tubuh dalam kondisi fit, have a nice trip.


Rating liburan kali ini 
Cost             : *****
Satisfaction   : **

1 Dec 2012

Kampung Dayak, Pampang

Nah kali ini gue wisata budaya. Tepatnya mengenal budaya suku Dayak, oh ya di Kalimantan ini merupakan pulau yang dihuni oleh berbagai macam suku bangsa loh, khususnya Kalimantan Timur ada beberapa suku diantaranya; Jawa, Bugis, Banjar, Dayak, dll, tapi untuk penduduk asli nya merupakan orang Dayak, nah Dayak sendiri itu ada macam-macam juga, kali ini trip gue ke suku Dayak di daerah Pampang, lokasinya adalah di Samarinda menuju kota Bontang, perjalanan cukup lumayan klo ditempuh dari Balikpapan, ya sekitar 4jam an dengan mobil. Kampung dayak Pampang ini adalah suatu desa budaya yang dilestarikan oleh pemerintah setempat, jadi sudah ada agenda rutin untuk kegiatan nya, setiap hari Minggu ada pertunjukan tari dan kebudayaan lainya. Perjalanan ini agak struggle, karena ditengah jalan mobil yang gue tumpangin pecah ban, tepat ditengah jalan dimana tidak ada tambal ban, bisa bayangin pan kempes ditengah hutan, ambil napas dalam-dalam, ambil kunci sama dongkrak, ganti ban deh, hahahah asli keringeten nya ngalahin lari marathon. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, setelah susah payah ganti ban, tibalah gue di desa Pampang. Kalau dilihat desanya sudah modern, sebagian besar rumah sudah menggunakan beton, sudah banyak kendaraan bermotor, dan kehidupan rata-rata masyarakat desa ini sudah cukup layak, padahal yang ada di bayangan gue, desa ini masih di dalam hutan yang belum ada listrik, masih banyak masyarakat yang telinga nya panjang dan penduduknya masih belum mengenyam pendidikan formal,  ternyata jauh dari bayangan gue.. penduduk desa Pampang tergolong modern. Setiap hari Minggu, di balai (kayak balai desa) itu diadakan pertunjukan seni, dimana pengunjung banyak dari wisatawan domestik maupun mancanegara, disitu kita bisa nemuin tarian dayak, suku asli dayak yang telinga nya panjang, dan pakaian asli dayak, seru abis motif batik nya itu kombinasi yang ceria (motif bunga kenanga kuning, putih, hitam).






Puas rasanya, meskipun untuk menonton pertunjukan ini dikenakan biaya yang lumayan juga, plus juga ada biaya foto kalau pengunjung mau berfoto dengan suku dayak yang mengenakan pakaian adat, tarif foto dan masuk sudah ada standard nya, so siapakan uang lebih jika ingin mengunjungi desa ini. Bangga banget dengan keanekaragaman budaya Indonesia :).

Rating liburan kali ini 
Cost             : *****
Satisfaction   : ***